Sejarah Karaeng Turikale V Syaikh Muhammad Salahuddin (1892-1924).

Oleh Muhammad Makmur Muhammad

Syaikh Muhammad Salahuddin adalah putra pertama Syaikh Abdul Qadir al-Jailani KaraEng Turikale IV (1872-1892). Syaikh Muhammad Salahuddin kemudian menggantikan kedudukan ayahnya yang mengundurkan diri untuk memusatkan perhatiannya pada pembinaan ummat selaku Syaikh Mursyid. Sebagaimana ayahnya, Syaikh Muhammad Salahuddin juga adalah seorang sufi yang sudah menempuh perjalanan sfiritual dari maqam yang satu ke maqam yang lebih tinggi (maqamat) atas bimbingan ayahnya dan Syaikh Abdul Razzaq al-Bugis al-Buni. Setelah bertahta, ia berfungsi ganda selaku Kepala Pemerintahan (Regent) sekaligus ulama. Dalam menjalankan tugas sehari-hari, ia dibantu oleh Sullewatang (acting Regent) , Hadat Dua belas dan seorang Kadhi (Penghulu Syara’) yang bernama Sayyid Abdul Wahid Assagaf ( Cicit Sayyid Ba’Alawi, Surriyat Sayyid Abdullah bin Alawi,Hadramaut, Yaman Selatan ).

Untuk menunjang roda perekonomian masyarakat, beliau menambah beberapa bangunan los pasar yang sebelumnya dibangun oleh ayahnya. Beliau juga membuka ratusan Ha areal persawahan dan perkebunan di Mangento (tidak jauh dari Bandara Sultan Hasanuddin sekarang) kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat. Atas jasa beliau dalam pembukaan areal persawahan dan perkebunan di Mangento, maka ia juga digelari KaraEng Mangento. Setelah pembukaan areal persawahan dan perkebunan di Mangento, Syaikh Muhammad Salahuddin kemudian membuat Khanqa (Perkampungan Sufi) di Patte’ne dan menyerahkannya kepada Syaikh Abdullah ibn Syaikh Abdul Razzaq. Patte’ne kemudian terkenal dengan ritual tahunannya, Maulid akbar yang didatangi oleh puluhan ribu jema’ah dari berbagai pelosok Nusantara.

Dibidang keagamaan yang terkait dengan Kemursyidannya, Syaikh Muhammad Salahuddin juga melakukan da’wah di berbagai daerah dan mengangkat beberapa orang Khalifah di Turikale (Maros), Pallangga (Gowa), Lamatti (Sinjai) dan Kolaka Sulawesi Tenggara.

Sebagai seorang sufi, Syaikh Muhammad Salahuddin adalah sosok yang zuhud, tawadhu, dermawan dan sudah mencapai tingkatan kasyaf. Beliau pantang membunuh nyamuk dan semut, bila ada nyamuk yang hinggap di badaannya maka ia biarkan nyamuk tersebut menghisap darahnya hingga kenyang. Tiap hari sudut-sudut rumahnya ditaburi gula pasir untuk dimakanan semut. Bahkan pernah beliau berjalan di pematang sawah sehabis hujan mendapati sekelompok semut yang hendak menyeberang tapi terhalang oleh genangan air, maka secara spontan beliau meletakkan tongkatnya yang berlapis emas dan ditinggalkan begitu saja untuk menjadi titian bagi para semut. Tiap hari Jum’at beliau bersedekah kepada anak-anak kecil sebelum shalat Jum’at, bila kebetulan ia tidak mempunyai uang pada hari Jum’at untuk bersedekah, maka pada malam harinya setelah selesai melaksanakan shalat Isya, beliau pergi duduk di dekat rimbunan pohon pisang agar badannya dikerumuni nyamuk.

Wirid utama beliau adalah dzikir jahr ba’da shalat Isya dan Subuh dan dzikir khafy pada keluar masuknya nafasnya. Bahkan ada dzikir khusus yang diamalkannya dibawah air pada sebuah kolam yang berukuran 3 X 3 meter dengan kedalaman 2 meter lebih. Dzikir inilah yang secara sfortif diakui oleh KH. Muhammad Tahir (Imam Lapeo/Wali Tanah Mandar) sebagai amalan khusus yang dimiliki oleh KaraEng Turikale V Syaikh Muhammad Salahuddin yang tidak dimiliki oleh KH.Muhammad Tahir Imam Lapeo.

KaraEng Turikale V Syaikh Muhammad Salahuddin menikah tiga kali, isteri pertama beliau adalah I Djamintang Dg Djimene. Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai tiga orang putra dan dua orang putri, yaitu:
1. A.Raden Ramlah Dg Puji.
2. A.Abdul Hamid Dg Manessa (KaraEng Turikale VI).
3. A.Djuhaepah Dg Tasabbe.
4. A.Zainuddin Dg Mangatta (Imam Turikale).
5. A.Marzuki Dg Marewa.

Isteri ke dua beliau bernama I Malang Dg Bollo, dari isteri keduanya beliau dikaruniai dua orang putra dan seorang putri, yaitu :
1. H.A.Mapparessa Dg Sitaba (KaraEng TurikaleVII menggantikan saudaranya).
2. A.Baso Dg Magassing.
3. A.Halimah Dg Ke’nang.

Isteri ketiga beliau bernama Sakone Dg So’na, dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai empat orang putri dan seorang putra, yaitu :
1. A.Asiah Dg Kebo.
2. A.Fatimah Dg Galo.
3. A.Hatifah.
4. A.Abu Yahya Dg Nyonri.
5. A.Zohra Dg Senga.

Pada tahun 1925 KaraEng Turikale V Syaikh Muhammad Salahuddin mengundurkan diri dari kegiatan pemerintahan untuk memusatkan perhatiannya pada kehidupan rohani sebagaimana ayahnya.

Beliau digantikan oleh putranya dari isteri pertama, A.Abdul Hamid Dg Manessa sebagai KaraEng Turikale VI.

Beberapa orang cucu dan cicitnya merintis karier di bidang Kepolisian RI, yaitu :

1. Brigjen Pol. A. Nurdin Sanrima (mantan Kapolda Aceh), putra A.Abdul Hamid Dg Manessa KaraEng Turikale VI.
2. Brigjen Pol.Dr.AA Mapparessa,SH,M.Si (mantan Dir. Museum Polri/Dosen PTIK), putra H.A.Mapparessa KaraEng Turikale VII.
3. Letkol Pol. Andi Abdullah (mantan Kapolres Barru).
4. Kol.Pol A.Djabbar (mantan Kapolwil Kendari, cucu menantu).

Syaikh Muhammad Salahuddin wafat pada tanggal 15 Pebruari 1939 bertepatan 27 Dzulhijjah 1357 H. Sesaat sebelum menghisap nafas terakhirnya, beliau berpesan agar seluruh isi lemarinya disedekahkan. Setelah pesan beliau dilaksanakan, maka beliau menghisap nafas terakhirnya dengan kalimah tauhid.

Sumber :

Tulisan di Facebook Grup PAMMAI

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *